My Angel, Taehyung.. (Chapter 2)


.

My Angel, Taehyung.. (Chapter 2)
Title                       :  My Angel, Taehyung..
Author                  :  babyneukdae_61
Main Cast            :  1. Park Ae Rin (OC)
                                   2. Kim Taehyung a.k.a  V (BTS)
Other Cast          : 
1.  All BTS Member
2.  Byun Baek Hyun (Kim Baek Hyun) a.k.a Baekhyun (EXO-K) 
3.  All EXO-K Member                   
4.  Kwon Tae Ra (OC)
5.  Park Ri Eun (OC)
6.  Wu Yi Fan (EXO-M)
7.  Kunpimook Bhuwakul (Kim Bam Bam) a.k.a Bambam (GOT7)
Length                                 :  Chaptered
Genre                   :  School Life, Romance, Friendship, “A bit” Comedy
Rate                      :  T
Disclaimer           : 
Cast BTS dan EXO milik Tuhan YME, Agensi masing-masing (Big Hit & SM), dan keluarganya. OC milik Author, alur cerita milik Author, no copycats!!
Warning!! Gaje, bikin kejang-kejang ampe berbusa! Maklumkan jika ada typo bertebaran di mana-mana! Because typo is my style.. Tapi kalo ga ada, chukkaeyo, Anda tidak membaca tulisan yang aneh-aneh dari FF ini.
NB: FF ini dari chapter  sampai terakhir gw juga post di http://www.overdoseinluv61.blogspot.com/ (my other blog)
Summary:
Sore ini, aku pergi ke taman kota, untuk menikmati indahnya langit sore. Ini sudah menjadi kebiasaanku. Menikmati langit sore, mensyukuri apa yang telah Tuhan berikan. Aku pergi ke taman kota dengan bersepeda.
Saat aku menempuh 4 meter dari rumahku, aku melihat seseorang yang juga bersepeda. Dan dia adalah namja yang aku temui beberapa jam yang lalu. Aku pun menyapanya, kami mengobrol tentang kemana kami akan pergi, lalu kami memutuskan untuk pergi ke taman kota bersama, karena kebetulan dia akan pergi ke taman kota juga.
Banyak yang kami lakukan bersama di taman itu. Dan satu yang membuat jantungku berdegup kencang, nanti kau akan tahu.
Entah kenapa, semenjak kejadian itu, aku terus terbayang wajahnya. Selalu memikirkannya. Hhhhh.... aku harap ada yang tahu mengapa ini bisa terjadi.
-Park Aerin-

Setelah bersenang-senang dengan keenam sahabatku, aku pergi bersepeda ke taman kota, kebetulan dongsaeng dan hyungku belum pulang. Yeah, aku tak tahu mengapa mereka sangat sibuk.
Aku pun telah menempuh 15 meter dari rumahku. Di saat itulah ada seorang yeoja yang memanggilku. Dia adalah yeoja yang aku temui hari ini di sekolah, beberapa jam yang lalu. Ketika aku tahu bahwa yeoja itu akan ke taman kota, aku pun mengajaknya untuk pergi bersama ke sana.
Kami melakukan banyak hal di sana, sambil bercanda bersama.
Namun, ada satu kejadian, yang membuatku merasakan sesuatu yang berbeda.
Bahkan, membuatku seperti orang yang sangat konyol.
Selalu terbayang wajahnya, selalu terpikir olehnya, dan selalu.... ingin bertemu dengannya.
.
.
Aku tak pernah merasakan ini sebelumnya. Apa yang sebenarnya kurasakan sekarang ini?
-Kim Taehyung-


My Angel, Taehyung..

At the first time I met you, I think that you are an angel from heaven.
Will I can find other angel like you, Kim Tae Hyung?
-Park Ae Rin-
Last Chapter....
#Aerin’s POV
Setelah mengobati luka di kakiku, aku pun langsung menuntun sepedaku yang ada di teras rumahku keluar, lalu aku mengendarai sepedaku. Saat aku telah menempuh 4 meter dari rumahku, aku bertemu dengan seorang namja yang juga mengendarai sepeda. Ia muncul dari arah yang sama denganku.
Sepertinya aku tahu namja ini.

Iya! Aku tahu namja ini!

“Kau....” ucapku dalam hati.

Chapter 2
#Aerin’s POV
“Kau....Kim Tae Hyung..Tak kusangka aku bertemu denganmu lagi..” ucapku dalam hati, sambil tersenyum.
“Taehyung-ah” aku pun memanggilnya. Dan sang pemilik nama itu, mendengarku, dan menoleh ke arahku. Kebetulan sepeda Taehyung jaraknya tak jauh dariku.
“Ya, Aerin-ah! Aku tak menyangka akan bertemu denganmu di sini. Kau mau kemana sore ini dengan sepeda?” jawab Taehyung, sekaligus bertanya kemana aku akan pergi.
“Aku? Aku pergi ke taman kota. Kau?” jawabku.
“Jinjja? Berarti sama denganku. Aku juga ke taman kota.Kalau begitu bagaimana kalau kita bersepeda bersama ke sana?” Ternyata, Taehyung juga pergi ke taman kota. Dan dia mengajakku untuk ke sana bersama.
“Boleh juga. Kalau begitu, kajja. Lebih menyenangkan kalau pergi bersama.” Aku menerima ajakannya. Memang lebih menyenangkan pergi bersama.
Kami pun bersepeda bersama ke taman kota. Kami mengayuh sepeda kami dengan santai.  Aku berada di depan Taehyung. Namun tiba-tiba... ada sepeda motor yang hampir menabrakku.
“AERIN-AH!!! AWAS!! “ teriak Taehyung ketika melihat sepeda motor yang hampir menabrakku.
Mendengar teriakan Taehyung, aku pun cepat-cepat mengerem sepedaku. Alhasil, sepeda motor tadi tak menabrakku. Namun, karena aku sangat panik, aku mengerem sepedaku tanpa melihat ada batu di depanku. Batu itu ukurannya kira-kira sebesar landak peliharaan. Ya, setidaknya itu bukan  landak peliharaan sungguhan. Namun karena batu itulah sepedaku oleng sehingga aku terjatuh di trotoar. Dan juga menghasilkan luka baru di lengan atasku dan lututku.
“Aigoo... neomu appo..” rintihku.
“Aerin-ah, gwenchanha? Apa ada yang sakit?” Taehyung pun langsung menghampiriku dengan sepedanya. Kulihat wajahnya terlihat panik ketika melihatku terjatuh di trotoar.
“Naneun gwenchanha. Tidak, hanya saja,ada sedikit luka di lengan atasku dan lututku.” Jawabku.
“Kau yakin? Apa kau masih bisa mengayuh sepedamu?” sepertinya Taehyung ragu-ragu dengan keadaanku.
“Tenang saja, aku tidak apa-apa. Kajja kita lanjutkan perjalanan” aku pun meyakinkannya.
“Baiklah. Kajja.” Jawab Taehyung akhirnya.
Kami pun melanjutkan perjalanan kami yang tertunda karena insiden tadi. Aku masih terbayang wajah Taehyung yang terlihat panik ketika menghampiriku tadi. Aku tak menyangka ia bisa sepanik itu.
Akhirnya kami tiba di taman kota. Kami pun menuntun sepeda kami masing-masing hingga Taehyung memintaku duduk di salah satu kursi taman.  Apa yang akan ia lakukan?
“Aerin-ah, kau tunggu di sini sebentar, arra? Aku segera kembali.” Kata Taehyung kepadaku.
“Ne, arra.” Jawabku.
Tak lama kemudian, aku melihat Taehyung kembali dengan membawa sesuatu. Apa itu?
“Taehyung-ah, apa itu?” tanyaku penasaran.
“Plester luka. Untuk mengobati lukamu. Kalau tidak, nanti ada kuman yang bisa masuk. Bisa-bisa terjadi infeksi.” Jawab Taehyung.
“Boleh kulihat lukamu?” tanya Taehyung.
“Silahkan.”jawabku. Ia pun melihat lukaku. Pertama, luka di lengan atasku. Ia menempelkan selembar plester luka bermotif kartun pada lukaku. Begitu juga ia lakukan pada luka di lututku.
“Gomawo, Taehyung-ah.” Aku pun berterimakasih kepadanya.
“Ne cheonma.” Jawabnya.
Kami pun duduk berdua di kursi taman tersebut, sambil memandang langit sore yang indah.
Aku beranjak dari kursi taman itu untuk membeli es krim, untukku dan Taehyung. Lalu aku kembali ke tempat kami duduk, lalu memberikan es krim kepada Taehyung, yang sedari tadi memainkan ponselnya.
“Ini. Aku yang traktir.Sebagai tanda terimakasih ku karena kau sudah membantuku sejak tadi pagi di sekolah hingga sore ini.” Kataku sambil menyodorkan es krim yang tadi kubeli kepada Taehyung.
“Gomawo, Aerin-ah.” Jawab Taehyung sambil menerima es krim yang kubelikan untuknya tadi.
“Ya.. seharusnya aku yang berterimakasih padamu. Kau sudah membantuku sejak pagi tadi. Mulai dari mengambilkan agendaku, mengajariku matematika, and bla, bla, bla. You know, so many things that you did for me today.” Kataku.
“Tidak perlu sungkan, Aerin-ah. Lagipula, aku senang jika aku bisa membantumu.” Jawab Taehyung.
“Hmm... ngomong-ngomong, kau selalu ke sini tiap sore?” tanyaku kepada Taehyung.
“Always. Aku suka sekali menghabiskan jam-jam sore di taman ini. Kalau kau?” jawab Taehyung.
“Sama sepertimu. Aku juga senang menghabiskan sore di taman.“  Ternyata kami punya kesamaan. Senang menghabiskan sore di taman. Mungkin karena kesamaan ini, kami bisa semakin dekat.
Aku pun menoleh ke arah Taehyung, kulihat di sudut bibir kanannya terdapat es krim yang menempel. Dasar BlankTae..
“Taehyung-ah, bisa kau mendekat sedikit?” kataku.
“Mwo, ada apa?” tanya Taehyung.
Aku pun membersihkan sisa es krim yang menempel itu dengan tangan kananku. “Kau ini, sama saja dengan Jimin, sejak kecil ia seperti itu, kalau sedang makan pasti berlepotan begini.” Kataku.
“Hahaha.. mungkin aku tertular oleh Jimin.”jawab Taehyung sambil tertawa. “Gomawo, Aerin-ah.” Kata Taehyung.
“Ne, cheonma.” Jawabku.
“Hey, Aerin-ah, kau tahu apa yang kubawa?” Mwo? Kira-kira apa yang ia bawa?
“Apa itu?” tanyaku penasaran.
“TaDa! Aku bawa gelembung sabun. Kau tahu, aku suka sekali bermain gelembung sabun.” Wow, ternyata seorang Kim Tae Hyung suka bermain gelembung sabun. Satu kesamaan lagi kutemukan di antara kami.
“Aku juga sangat menyukai gelembung sabun. Sejak kecil, tiap aku mandi, aku pasti bermain gelembung sabun. Bahkan kebiasaan itu terbawa sampai aku duduk di SMP kelas 2. Aigoo, betapa kekanak-kanakannya aku!” aku pun berbagi cerita masa laluku tentang gelembung sabun.
“Jinjja? Aigoo, seorang Park Ae Rin ternyata seperti itu. Hahaha... Aku juga seperti itu sih. Waktu aku masih di SMP, kelas 1, sekolah kami mengadakan perkemahan. Ketika waktunya mandi, aku bermain gelembung sabun di kamar mandi, sampai-sampai aku lupa kalau orang lain akan memakai kamar mandi juga. Kau tahu, ketika aku keluar dari kamar mandi, kulihat antriannya sangat panjang dan mereka yang mengantri marah-marah, bahkan teman-teman sereguku hampir menghajarku. Untung saja aku segera lari ke tenda.” Taehyung juga berbagi pengalamannya tentang gelembung sabun. Aigoo, ternyata....
“Aigoo, Taehyungie... kalau aku yang jadi teman seregumu, mungkin puluhan jitakan indah dariku akan langsung mendarat di kepalamu.Hahahaha.... “ aku menanggapi cerita Taehyung dengan tawaan.
“Kalau begitu, tunggu apa lagi? Kajja kita main gelembung sabun! Nanti aku akan memotretmu.” Ajak Taehyung. Taehyung akan memotretku saat bermain gelembung sabun menggunakan ponselnya.
“Baiklah, Kajja! Nanti aku juga akan memotretmu.”aku pun menerima ajakan Taehyung untuk bermain gelembung sabun.
Ya, di taman ini kami bermain gelembung sabun sepuas kami. Dan banyak sekali foto-foto kami yang telah kami ambil. Setelah lelah bermain, kami pun melihat foto-foto yang kami ambil tadi.
“Asyik juga, ya bermain gelembung sabun bersama. Aku rasa aku seperti anak berumur 7 tahun.” Kataku sembari melihat foto-foto kami.
“That’s right! Yak.. Aerin-ah, kenapa kau memotretku saat aku bersin?” jawab Taehyung, sekaligus memprotesku karena aku memotretnya saat ia sedang bersin.
“Hahahahaha..... justru foto inilah yang paling lucu menurutku.” Kataku.
“Itu memang lucu, tapi aku jadi terlihat konyol di sini!” Jawab Taehyung sambil mempoutkan bibirnya. Aigoo.. namja ini terlihat imut ketika ia mempoutkan bibirnya.
“Aku akan menghapus fotonya, hehehe” kata Taehyung sambil mengambil ponselnya dariku.
“Mwo? Dihapus? Andwae! Foto itu sangat lucu menurutku! Jangan dihapus, Taehyung-ah! Aigoo.. namja ini!” aku berusaha mencegahnya untuk menghapus foto itu. Sayang sekali bila foto itu dihapus!! Aigoo Kim Taehyung!!
“Nah, aku hapus, ya! Hana, dul, se...” Taehyung hampir menghapus foto itu. Aigoo!! Jangan sampai itu terjadi!
“Taehyung-ah, andwae!!” cegahku. Aku pun menarik tangannya dengan maksud untuk merebut ponsel itu darinya. Namun yang terjadi...
“Aerin-ah, tunggu!!!” teriak Taehyung.
Ketika aku menarik tangannya, posisi tubuhku berubah menjadi telentang karena aku terlalu kuat menarik tangannya. Alhasil, Taehyung mendarat tepat di atas tubuhku. Aigoo, why it must happened?
Ia menatapku lekat. Begitu juga sebaliknya. Kau tahu, jantungku berdegup 10 kali lebih cepat dari biasanya. Belum pernah aku dan Taehyung dalam jarak sedekat ini. Bahkan nafasku jadi tak beraturan. Saat itu wajahku sepertinya -- karena aku tak mungkin melihat wajahku sendiri -- terlihat tegang, kulihat wajah Taehyung pun berubah menjadi tegang ketika kami dalam jarak yang sedekat itu. Bahkan, bisa dibilang hampir tak berjarak!! Aigoo!!!!
Dalam hati aku berkata, “ Ya Tuhan, kenapa bisa terjadi seperti ini? Kenapa detak jantungku jadi lebih cepat dari biasanya, bahkan bisa kurasakan detak jantungku secepat kereta api? Kenapa nafasku jadi tak beraturan seperti ini? Actually, what happened with me? Someone, jebal!! Help me to answer my question!! I can’t find the answer!!”
Taehyung pun bangun, dan memperbaiki posisi badannya. Begitu juga denganku.
Kau tahu, karena kejadian itu, aku jadi sedikit canggung terhadap Taehyung. Tapi aku berusaha menyembunyikannya. Aku takut karena kecanggunganku itu, mungkin kami tak jadi teman dekat lagi. Dia teman pertamaku di KKFS, bukan?
Aku pun cepat-cepat meminta maaf kepadanya. “Taehyung-ah,jeongmal mianhae.”
“Gwenchanha. Aku tahu kau tidak sengaja.”jawabnya. Aku rasa aku sedikit lebih lega.
 “Aku rasa aku tidak jadi menghapus foto itu. Aku terlihat lucu saat bersin.” Kata Taehyung sambil tersenyum. “By the way, let’s take a selca”ajak Taehyung.  Aku pun menerima ajakan itu dengan menjawab “Ne, kajja!”
Akhirnya kami pun mengambil selca dengan ponselku. Kami mengambil selca sebanyak 4 kali.
Setelah mengambil selca, Taehyung berkata, “Aerin-ah, kau kirimkan foto selca kita tadi, nde?”
“Baiklah. Aku juga ingin meminta foto kita tadi saat bermain gelembung sabun.” Jawabku.
Kami pun saling mengirimkan foto-foto yang kami ambil saat bermain gelembung sabun, dan juga foto-foto selca kami. Setelah itu, kami pergi meninggalkan taman itu, karena matahari sudah terbenam.
Dalam perjalanan, aku dan Taehyung sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Aku masih membayangkan kejadian tadi. Aigoo, kenapa bisa terjadi? Dan kenapa kejadian itu masih terbayang olehku?
Lalu apa yang dipikirkan Taehyung? Molla. Aku tak bisa membaca isi pikirannya.
Diam-diam, aku menoleh ke arah Taehyung, lalu memperhatikan wajahnya.
“Dia manis juga. Selain itu, dia juga tampan.”pikirku sembari memperhatikan wajahnya.
“Aigoo!! Andwae! Andwae! Pabo!!Tak mungkin kau menyukainya!!” aku mengelak dari pemikiranku itu dalam hati sambil menggelengkan kepalaku. Saat itulah sepedaku oleng (lagi) untuk yang kedua kalinya. Tapi untungnya, aku tak terjatuh lagi di trotoar, karena Taehyung – yang menyadari sepedaku oleng—memegangi setang sepedaku sehingga aku dapat memperoleh keseimbanganku kembali.
“Aerin-ah, aku tak mau jika kejadian saat kita dalam perjalanan ke taman terjadi lagi. Nanti luka di tubuhmu semakin bertambah. Pertama di betis kirimu, lalu di kedua lutut mu, dan di lengan kanan atasmu. Aku kasihan padamu. Dalam sehari sudah ada banyak luka di tubuhmu.” Kata Taehyung.
“Luka di betis kiriku? Kenapa kau bisa tahu?” tanyaku ketika ia mengetahui ada luka di betis kiri ku.
“Sudah jelas aku tahu. Saat kita bersepeda bersama, aku melihat lukamu itu.” Jawab Taehyung.
“Ohh.. hahaha, kau melihatnya? Tapi tenang saja, luka di betisku itu sudah kering, kok.” Kataku.
Suasana bersepeda kami pun kembali sunyi, sampai salah satu di antara kami memecahkan keheningan di antara kami.
“Ngomong-ngomong, dimana rumahmu?” tanya Taehyung.
“4 meter dari tempat kita bertemu tadi, kalau rumahmu?” jawabku, sekaligus bertanya di mana rumahnya.
“Rumah berpagar  biru itu? 4 meter dari tempat kita bertemu tadi? Jadi itu rumahmu?” kata Taehyung.
“That’s right.” Jawabku singkat.
“Rumahku tak jauh dari rumahmu. Kira-kira 11 meter dari rumahmu.” Kata Taehyung.
“Ngomong-ngomong, bagaimana kalau besok sore kita ke taman lagi?” ajak Taehyung.
“Ani, aku tak bisa ke taman besok. Aku dan Taera ada janji besok sore.” Tolakku. Sebenarnya aku ingin sekali ke taman lagi bersama Taehyung. Kalau bisa setiap sore kami dapat bersepeda bersama ke taman itu.
“Kau sudah berkenalan dengan yeoja itu?” tanya Taehyung.
“Yap, dan dia adalah teman yeoja pertamaku di KKFS. Dan kalau kau mau tahu, kau teman namja pertamaku di KKFS. Bahkan bukan hanya teman namja pertama, kau teman pertamaku di KKFS” jawabku.
“Jinjja? Aku teman pertamamu? “ kata Taehyung.
“That’s right!” jawabku singkat, sambil tersenyum.

Akhirnya aku pun tiba di rumahku. Aku membuka pagar rumahku yang berwarna biru itu. Lalu aku berkata kepada Taehyung, “Taehyung-ah, kau tidak mau mampir dulu?”
“Mianhae, mungkin tidak sekarang, aku mau memperbaiki sepeda dongsaengku. Kemarin ia menabrak pohon saat ia bersepeda. Kau tahu, dia dikejar oleh anjing galak saat ia bersepeda dengan temannya. Jadinya ia menabrak pohon. Ouch! I certain that was so terrible.”tolak Taehyung sambil menjelaskan kenapa ia tak mampir dulu.
“Chakkaman. Kau punya dongsaeng? Kukira kau hanya punya seorang hyung.” Tanyaku. Aku baru tahu kalau dia punya adik.
“That’s right. Aku punya dongsaeng. Namanya Kim Bam Bam. Dia siswa kelas 1-1. Tadi ia mengikuti tes seleksi pengurus OSIS baru.” Jelas Taehyung.
“Aku pergi sekarang, ne? Lagipula, kau belum mandi,bukan?” Taehyung berpamitan denganku, dan mengingatkanku kalau aku belum mandi (?) Aigoo! Kenapa ia bisa tahu?
“Ah, iya! Aku belum mandi, ya!” aku pun sadar kalau aku belum mandi.
“Hahaha.. tenang saja. Aku juga belum mandi.” Katanya sambil mengacak-acak rambutku.
Entah kenapa saat Taehyung mengacak-acak rambutku, detak jantungku menjadi semakin cepat, bahkan lebih cepat daripada saat kejadian di taman tadi. You know, I can’t explain what I feel.
“Baiklah, aku pulang dulu. Sampai bertemu besok, Aerin-ah.” Pamit Taehyung.
“Ne, kau hati-hati, arra?” jawabku.
“Pasti, Aerin-ah.”
Taehyung pun mengayuh sepedanya lagi. Sebelum sepedanya menjauh, aku sempat mendengar ia berkata, “Bye, Aerin-ah! Aku senang bisa menghabiskan sore hari di taman bersamamu.”
“Me too, Taehyung-ah.” Jawabku sambil tersenyum.
Perlahan-lahan Taehyung dan sepedanya menghilang dari pandanganku. Setelah aku tak melihat Taehyung, aku pun masuk ke rumah. Saat aku masuk, aku masih terbayang saat Taehyung mengacak-acak rambutku. Sampai-sampai saat aku berjalan, aku tak memperhatikan pintu masuk rumahku, dan hasilnya, kepalaku menabrak pintu. Ouch!!! Cukup tadi saja saat perjalanan pulang aku kehilangan kesadaranku karena Taehyung, tak perlu ditambah saat aku akan  masuk ke dalam rumah ku. Menyebalkan!!!!
Aku pun masuk ke dalam rumahku. Lalu menyapa Ri Eun eonni yang sedang membaca novel. Appa dan umma belum pulang sepertinya. Aku masuk ke kamarku yang ada di lantai 2, mengambil handuk dan baju gantiku. Lalu, aku mandi di kamar mandi di kamarku.
Setelah itu, aku turun ke lantai 1, dan bergabung dengan Ri Eun eonni di ruang tamu. Kami menunggu Appa dan Umma untuk makan malam bersama. Sembari menunggu, aku mendengarkan lagu di ponselku menggunakan headset.
Setelah menunggu selama 1 jam, Appa dan Umma pun tiba di rumah. Setelah menunggu Appa dan Umma membersihkan diri, kami pun makan malam bersama.
Saat kami makan malam, Appa dan Umma menanyakan tentang hari ini di sekolah, terutama pertanyaan-pertanyaan tersebut ditujukan kepadaku, karena hari ini adalah hari pertamaku di sekolah baru. Tapi Rieun eonni juga mendapatkan pertanyaan yang sama. Setelah berbincang-bincang tentang hari ini di sekolah, kami pun melanjutkan makan malam kami. Saat itulah aku terbayang lagi oleh saat-saat aku bersama Taehyung. Mulai dari saat ia mengambilkan buku agendaku, saat aku  menyadari bahwa aku menjadi teman sekelasnya, bahkan menjadi teman sebangkunya, saat ia mengajariku bagaimana cara mengerjakan soal matematika, saat aku bertemu dengannya dalam perjalananku ke taman, saat aku melihat wajahnya yang memancarkan ekspresi panik ketika aku terjatuh dari sepedaku, aishhh... banyak sekali yang aku alami dengannya hari ini!
Aku membayangkan apa yang kualami dengan Taehyung hari ini sampai-sampai aku tidak menyentuh makananku sama sekali. Saat  itulah Umma menyadarkanku.
“Aerin-ah, gwenchanha?” tanya Umma.
“Oh, naneun gwenchanha, Umma.” Jawabku.
Setelah kami menyantap makan malam kami, aku pun kembali ke kamarku, lalu aku meraih ponselku, untuk melihat foto-fotoku dan Taehyung tadi di taman. Ketika aku melihat foto Taehyung sedang bersin, aku terkekeh melihatnya, karena ekspresinya sangat lucu. Aku pun sampai pada foto selca kami. Aku pun tersenyum ketika melihat foto itu.
Lalu, aku mengambil laptopku dan kabel dataku. Aku bermaksud ingin mengcopy foto-fotoku dengan Taehyung tadi ke laptopku. Tiba-tiba, di benakku muncul pikiran”apa perlu aku mencetak foto selcaku dengan Taehyung, ya?”. Aku pun membawa laptopku ke kamar Rieun eonni untuk mencetak foto selcaku dengan Taehyung. Maksudku, bukan hanya foto selcaku dengan Taehyung, melainkan juga foto-foto ku dan Taehyung saat bermain gelembung sabun di taman.
“Rieun eonni, aku pinjam printermu, ne? Aku mau mencetak sesuatu” kataku saat aku melihat Rieun eonni di kamarnya. Aku tak lupa mengambil kertas khusus foto dari kamarku saat ke kamar Rieun Eonni.
“Ne, silahkan.Kau mau mencetak apa?” jawab Rieun eonni sekaligus bertanya apa yang mau aku cetak.
“Eonni ini mau tahu saja.” Jawabku.
Aku pun menghubungkan laptopku ke printer, membuka foto –foto yang aku copy ke laptopku tadi, lalu menempatkan kertas khusus foto di printer. Lalu, aku mencetak foto-foto itu. Setelah itu, aku mencabut laptopku dari printer. Setelah itu, aku kembali ke kamarku. Tak lupa aku mengucapkan terima kasih kepada Rieun eonni.
Saat aku kembali ke kamarku, aku mengambil gunting, lalu menggunting foto yang kucetak tadi dengan rapi. Dari 4 foto selcaku dengan Taehyung, 1 foto aku beri bingkai, lalu ku taruh di meja dekat tempat tidurku, 1 foto lain aku tempelkan di buku harianku, 1 foto lain lagi aku tempelkan di meja riasku, bersama dengan foto Taehyung yang sedang meniup gelembung sabun dan fotoku yang sedang meniup gelembung juga. Dan 1 foto lagi, aku masukkan ke album foto pribadiku, bersama dengan foto-foto ku dengan Taehyung yang lainnya. Tak lupa di Album itu, aku menuliskan tanggal hari ini. “ August 04, 2014, The First Time in City Garden with My First Friend in KKFS, Kim Tae Hyung. By : Park Ae Rin” itulah kata-kata yang kutulis di album fotoku yang bertuliskan “Park Aerin’s Story” . Tak lupa aku menambahkan quote di halaman album foto itu. “Kim Taehyung, you are the first boy that I met in my new school, and you are my first friend. I can’t lost you. I’m so lucky to have a friend like you.” Itulah isi quote di halaman album foto itu.
Setelah memasukkan foto-foto tersebut ke album foto, aku menyimpan album itu di laci pribadiku. Hahaha... kau tahu, seorang Park Ae Rin mempunyai barang pribadi yang sangat banyak!!!
Setelah aku menyimpan album fotoku, aku naik ke atas tempat tidurku. Lalu, aku mengambil foto di atas meja tempat tidurku. Foto selcaku dengan Taehyung. Tanpa kusadari, aku mengelus wajah Taehyung di foto itu dengan jariku, sambil tersenyum.
“Belum pernah aku menyimpan foto seorang namja yang hanya sebagai temanku. Apa mungkin aku menyukaimu, Kim Taehyung??” pikirku.
“Aigoo!! Kenapa aku masih memikirkan itu? Andwae! Andwae !! Aku tidak menyukainya!!! Park Ae Rin tidak menyukai Kim Tae Hyung!!! ” Aku berusaha mengelakkan pikiran itu dariku sambil memukul-mukul kepalaku dengan foto itu. Aishhh kenapa aku masih memikirkan itu!! Tak mungkin aku menyukainya!!
Tanpa kusadari, Rieun eonni masuk ke kamarku ketika aku memukul-mukul kepalaku dengan foto itu. Rieun eonni yang melihat itu pun menghampiriku.
“Yak! Aerin-ah, kau sudah gila??” kata Rieun eonni untuk menyadarkanku.
“Eh, eonni? Sejak kapan eonni di sini?” kataku ketika aku menyadari Rieun eonni ada di kamarku.
“Baru saja aku tiba. Hey, tunggu! Foto apa ini? Boleh kulihat?” jawab Rieun eonni, sekaligus bertanya tentang foto yang ku pegang.
“Foto ini? Foto ini.. fotoku dengan teman pertamaku di KKFS.Memangnya kenapa?” jawabku.
“Aku lihat, ne?” Rieun eonni mengambil foto yang kupegang tadi.
“Hey, teman pertamamu itu namja? Dia, Kim Taehyung, kan?? Dia itu dongsaeng dari temanku di kelas 3-1, Kim Baekhyun. Chakkaman. Kau bilang dia teman pertamamu? Dia itu teman pertamamu atau pacarmu? Kau ‘kan belum pernah menyimpan foto seorang namja di kamarmu, bukan? Ini foto pertamamu dengan seorang namja di sekolah. Berarti, dia pacarmu, aku benar kan?” tanya Rieun eonni panjang lebar.
“Yak!! Eonni, Taehyung bukan pacarku! Aku baru kenal dengannya. Dan aku dan Taehyung hanya teman, bisa dibilang teman sekelas, dan juga teman sebangku, dan teman dekat. Hanya saja, tadi aku berjalan-jalan dengannya di taman kota tadi sore.Tapi itu bukan berarti kami punya hubungan khusus. Park Ae Rin dan Kim Tae Hyung adalah ‘teman dekat’, never more than that.” Jelasku.
“Terserah kau saja, Aerin-ah.” Jawab Rieun eonni,lalu ia kembali ke kamarnya. Ahhh... akhirnya yeoja yang satu ini tak menanyaiku macam-macam lagi tentang hubunganku dengan Taehyung. Sudah jelas, aku dan Taehyung hanya teman dekat!! Never more than that!

Tapi, jika aku dan Taehyung hanya teman dekat, kenapa jantungku berdegup kencang saat aku bersamanya? Kenapa aku selalu terbayang wajahnya? Wae? Why? Siapapun, jawablah pertanyaanku!!
Ahhh... aku yakin aku akan jadi gila karena hal ini. Pikiran seorang Park Ae Rin kacau karena seorang bernama Kim Tae Hyung, yang tak lain adalah namja pertama yang ia temui di KKFS, yang mengambilkan agenda Aerin yang terjatuh? Oh God, what happen with me??
Ddrrrrrrttttttttttt....... ponselku bergetar. Sepertinya ada pesan masuk. Aigoo, siapa yang mengirim pesan saat aku sedang dalam keadaan stress seperti ini?
Kuambil ponselku untuk melihat siapa yang mengirimkan pesan. Dan ternyata.....
1 message received.
From: BlankTae
Orang yang mengirimkan pesan padaku ternyata, namja yang menghantui pikiran ku sejak 1 jam yang lalu. Kim Taehyung.  Aissshhh kenapa harus namja ini??
Akhirnya, kubuka pesan yang aku terima.
From: BlankTae (Kim Taehyung)
Annyeong, Aerin-ah J  kau sedang apa?
Aku membalas, atau tidak,ya? Aku pun berpikir sejenak. Setelah kupikir-pikir, aku rasa lebih baik ku balas pesannya. Supaya tidak ada kesan bahwa aku sedang stress karenanya. Akhirnya kubalas pesan darinya.
To:  BlankTae (Kim Taehyung)
Nado annyeong. Aku sedang bermain gitar di kamarku. Kau sedang apa?
Ya, sebenarnya aku tak bermain gitar, tapi aku punya gitar dan aku bisa bermain gitar. Tak lama kemudian, ia membalas pesanku.
From: BlankTae (Kim Taehyung)
Aku? Aku baru selesai membaca komik-komikku.. Chakkaman. Kau bisa bermain gitar?
Aku membalas lagi.
To: BlankTae (Kim Taehyung)
Tentu saja. Aku diajari oleh Chanyeol oppa. Ya, sayangnya, aku tak bisa bermain sehebat dirinya.
Baru beberapa saat aku menaruh ponselku, dia membalas pesanku lagi.
From: BlankTae (Kim Taehyung)
Ohh.. I see. Besok tak ada PR yang harus dikumpulkan,’kan?
Aku membalas lagi
To: BlankTae (Kim Taehyung)
Aku rasa tidak ada. Oh iya, bagaimana dengan tes seleksi adikmu?
Ia pun membalas pesanku.
From: BlankTae (Kim Taehyung)
Syukurlah, dia diterima. Dia menjadi wakil bendahara. Aku senang dongsaengku diterima menjadi pengurus OSIS. Karena aku mendapatkan keuntungan darinya. Hehehehe...
Keuntungan? Keuntungan apa yang ia maksud?
To:BlankTae (Kim Taehyung)
Keuntungan apa yang kau maksud? Aku penasaran.
Tak lama kemudian, ia membalas pesanku.
From: BlankTae (Kim Taehyung)
Aku akan ditraktir olehnya. Lagipula, dia belum pernah mentraktirku. Ngomong-ngomong, apa aku boleh tahu sebutanmu? Kau kan sudah tahu sebutanku.
Hey, untuk apa ia tahu sebutanku? Ahh tidak apa-apa, aku beritahu saja.
To: BlankTae (Kim Taehyung)
Sebutanku? Sebutanku itu PoutyRin. Karena aku senang mempoutkan bibirku. Ngomong-ngomong, aku tidur dulu, ne? Sampai jumpa besok, BlankTae.
Lalu ia membalas pesanku lagi.
From : BlankTae (Kim Taehyung)
PoutyRin, ya? Ohh... baiklah. Selamat tidur, PoutyRin. Sampai jumpa besok. Hahaha, sepertinya sedikit aneh jika aku memanggilmu PoutyRin.
Dia mengucapkan ‘selamat tidur’ untukku? Kau tahu, belum pernah ada namja yang mengucapkan selamat tidur untukku, kecuali Appa, Chanyeol oppa, dan Jimin.
Akupun membalas pesannya.
To: BlankTae (Kim Taehyung)
Terimakasih atas ucapan selamat tidurnya. Kau nanti akan terbiasa memanggilku dengan sebutan itu. Err... kau sudah memperbaiki sepeda dongsaeng mu?
Tak lama kemudian, ia membalas pesanku lagi.
From: BlankTae (Kim Taehyung)
Ahh, iya!! Aku belum memperbaikinya. Okay, aku perbaiki sepeda Bambam dulu. Gomawo sudah mengingatkanku. Tidur yang nyenyak, Aerin. Hihihihi.
Ahh, namja ini! Aku membalas pesannya.
To : BlankTae (Kim Taehyung)
Okay, Blanktae. See you tomorrow!!
Sebenarnya, aku tidak tidur. Aku sedang memikirkan apa benar aku menyukainya, atau tidak, namun karena aku tak bisa mendapatkan jawabannya, aku pun memilih untuk tidur.
#Aerin’s POV end
#Taehyung’s POV
Sore ini, setelah aku bermain dengan teman-teman BTSku di rumahku, aku pergi bersepeda ke taman kota. Saat aku menempuh jarak 15 meter dari rumahku, ada seorang yeoja yang menyebut namaku. Ternyata itu Park Aerin. Teman sebangkuku. Yeoja yang kutolong tadi pagi. Ia juga bersepeda.
Saat kutanya kemana ia akan pergi, ia menjawab bahwa ia akan ke taman kota. Ternyata kami akan ke tempat tujuan yang sama. Akhirnya, kami pergi bersama. Tiba-tiba ada sepeda motor yang hampir menabraknya.
Saat itulah aku berteriak kepada Aerin untuk menghindar dari sepeda motor itu. Untungnya, ia dapat menghindar dari sepeda motor itu. Namun sayangnya, sepedanya oleng dan ia terjatuh ke trotoar bersama dengan sepedanya. Saat itu, aku menghampiri Aerin dengan perasaan panik. Aku takut terjadi sesuatu pada yeoja itu. Tapi, ia bilang bahwa ia baik-baik saja. Awalnya aku ragu, tapi aku kembali yakin saat ia dapat berdiri tanpa bantuan dariku. Baguslah kalau ia tak apa-apa.
Sesampainya kami di taman, aku memintanya duduk di salah satu kursi taman, sementara aku mencarikan plester luka untuknya. Setelah itu, aku menempelkan plester luka tersebut pada lukanya. Lalu, kami pun duduk berdua di kursi taman tersebut, memandang langit sore yang indah. Sambil menikmati indahnya langit sore, aku mendengarkan lagu di ponselku. Saat itu, aku ingin berbagi headset dengan Aerin, mendengarkan lagu yang sama dari ponselku. Aku sering melakukan itu dengan Hoseok, kadang aku juga melakukannya dengan Jungkook. Namun, saat aku ingin berbagi headset dengan Aerin, kulihat yeoja itu tak ada di sebelahku. Mungkin ia sedang berjalan-jalan.
Tak lama kemudian, Aerin kembali dan memberikan es krim untukku. Katanya sih, sebagai tanda terimakasih karena aku sudah menolongnya sejak pagi tadi hingga sore ini. Aku katakan padanya bahwa aku senang dapat menolongnya. Sambil menikmati es krim kami masing-masing, kami mengobrol tentang kebiasaan kami di taman ini tiap sore hari. Yeah, aku tak menyangka, yeoja yang satu ini senang sekali bersepeda ke taman tiap sore hari.
Beberapa saat kemudian, ia memintaku sedikit mendekat. Ternyata, ia membersihkan sisa es krim yang menempel di sudut bibir kananku. Katanya, aku sama seperti Jimin. Haha, mungkin aku tertular olehnya. Setelah itu, aku mengajaknya bermain gelembung sabun. Ternyata, kami sama-sama senang bermain gelembung sabun. Kami pun berbagi pengalaman tentang gelembung sabun. Kami sampai tertawa saat kami saling mendengar pengalaman kami masing-masing.
Saat kami bermain gelembung sabun, kami juga saling memotret. Setelah puas bermain, kami melihat foto-foto kami saat bermain gelembung sabun. Dan, Aerin memotretku saat bersin! Aku ingin menghapus foto itu, karena itu sangat konyol! Namun, Aerin berkata bahwa foto itu justru yang paling lucu di antara semua foto yang kami ambil. Karena perbedaan pendapat itu, kamipun memperebutkan ponselku, dimana foto konyol tersebut disimpan. Hahaha, ponsel saja diperebutkan, apalagi aku! Hahaha, sudahlah, Taehyung, jangan berpikir seperti itu.
Saat kami memperebutkan ponselku, Aerin menarik tanganku, dengan maksud untuk mengambil ponselku. Namun, yang terjadi adalah, karena Aerin menarikku terlalu kuat, aku mendarat tepat di atas tubuhnya. Saat itu, entah kenapa tiba-tiba kecepatan detak jantungku meningkat 10 kali lipat. Saat itu, aku menatapnya lekat, begitu juga Aerin. Ya Tuhan, belum pernah saat aku bersama dengan seorang yeoja, aku dalam jarak yang sedekat ini dengan yeoja itu. Bahkan bisa dibilang ‘hampir tak berjarak’!
Lalu, aku bangun dan memperbaiki posisi badanku, aku takut Aerin akan sesak nafas, karena yang kudengar dari Chanyeol hyung dan Jimin, Aerin menderita asma. Saat itu, Aerin meminta maaf kepadaku. Tenanglah Aerin-ah, aku tahu kalau kau tidak sengaja. Setelah itu, aku mengajak Aerin mengambil selca. Lalu, kamipun saling mengirimkan foto yang kami ambil selama di taman tadi, setelah itu kami bersepeda meninggalkan taman tersebut, karena hari sudah senja.
Saat itu aku kembali terbayang dengan kejadian tadi. Entah kenapa, setelah kejadian itu, jantungku berdegup semakin kencang. Akupun berpikir, mungkinkah aku menyukai Aerin? Memang, wajahnya manis, dan aku juga suka senyumnya. Tapi, mungkinkah aku memiliki perasaan itu terhadap Aerin?
Kira-kira apa yang Aerin pikirkan sekarang? Entahlah, aku bukanlah orang yang dapat membaca pikiran.
Aku terdiam, memikirkan apa yang terjadi di taman tadi. Tiba-tiba, kulihat sepeda Aerin oleng lagi, sebelum ia terjatuh lagi, aku berusaha membantunya dengan memegang setang sepedanya. Ahh, jangan sampai ia terjatuh lagi. Aku kasihan kepadanya.
Saat itulah, kami mulai mengobrol lagi. Aku pun tahu kalau rumah Aerin itu adalah rumah berpagar biru yang letaknya 4 meter dari tempat kami bertemu tadi. Aku mengajaknya untuk pergi bersepeda di taman kota lagi besok sore, tapi ternyata ia ada janji dengan Taera, teman sekelasku. Kau tahu, ia bilang aku adalah teman pertamanya saat ia masuk di KKFS. Yeah, mungkin satu-satunya namja yang ia temui saat pertama kali masuk ke KKFS adalah aku, yeah, tepatnya ia bertemu denganku saat aku mengambilkan bukunya yang terjatuh.
Akhirnya, kami tiba di rumah Aerin. Aerin mengajakku untuk mampir sebentar, tetapi aku menolaknya karena aku akan membetulkan sepeda Bambam. Aku sempat mengobrol dengannya sebentar. Aku bahkan dapat menebak bahwa Aerin belum mandi. Kenapa aku bisa tahu? Bagaimana tidak, mana mungkin ada yang mandi saat masih mempunyai kegiatan di luar? Aku pun mengacak-acak rambutnya. Setelah itu aku pulang ke rumahku.
Aku pun telah tiba dirumahku. Aku memarkirkan sepedaku, lalu masuk ke rumah. Saat aku membuka pintu masuk rumahku, aku dikagetkan oleh seseorang yang muncul tiba-tiba di depan pintu.
“Hyung!” ternyata itu Bambam.
“Aigoo!!!” Aku terkejut, lalu aku terjungkal(?) karena aku sangat kaget.
“Yakk! Kim Bambam!!! Kenapa kau mengagetkanku?” tanyaku kepada Bambam karena ia telah mengagetkanku.
“Ahh, tidak ada apa-apa kok, hyung. Perbaiki sepedaku, ne, hyung?” jawab Bambam.
“Ne, ne, nanti aku perbaiki. Tapi aku mandi dulu!! Eh,apa Baekhyun hyung sudah pulang?” kataku.
“Sudah. Dia sedang video call dengan Chanyeol hyung. Maklum lah, mereka kan couple.” Jawab Bambam.
“Baiklah hyung, aku masuk dulu!!” kata Bambam.
“Ya sudah, masuk sana!!” jawabku.
Bambam menutup pintu masuk. Tunggu, bagaimana aku bisa masuk kalau pintunya ditutup?
Akupun membuka pintu itu. Aissshhh, dikunci??? Kenapa harus dikunci segala? Aku menggedor-gedor pintu itu dan meneriaki dongsaengku itu.
“YAK!! KIM BAMBAM!!!!! BUKA PINTUNYA!!!!!! KAU MAU KUMAKAN HIDUP-HIDUP?????” teriakku dengan suara yang membahana (?)
Aku menggedor-gedor pintunya sekali lagi. Aku menggedor-gedor pintunya dengan tidak sabar, sampai-sampai ketika pintu terbuka, aku terjatuh di depan Bambam, namun karena Bambam melangkah mundur, aku terjatuh ke lantai dengan posisi telungkup, mungkin seperti orang yang mati bunuh diri dengan melompat dari lantai tertinggi suatu apartemen.
Baekhyun hyung yang tadi membukakan pintu untukku dan Bambam yang berada dekatku, bukannya menolongku, malah menertawaiku yang dalam keadaan mengenaskan seperti ini.
“Hahahahahahahaha, tak kusangka hyung sangat mencintai Korea Selatan, sampai-sampai hyung mau mencium tanah. Aku salut dengan sifat patriotismemu itu, hyung!!! Hahahahahahaha...” ejek Bambam yang melihatku dalam keadaan mengenaskan seperti  ini.
“Aku rasa dongsaengmu benar, Taehyung-ah. Tapi kalau boleh kusarankan,lebih baik kau tunjukkan sifat patriotismemu itu dengan ikut wajib militer, bukan dengan cara ini! Hahahahahahahaha......” Baekhyun hyung pun ikut-ikutan mengejekku.
“Yakkk!!! Kalian, bantu aku berdiri, jebal! Bukannya menertawaiku!! Teganya kalian.. huaaaaaaaa” rengekku.
“Ne, ne, kami bantu kau berdiri. Bambam, bantu aku!” jawab Baekhyun hyung sekaligus meminta Bambam untuk ikut membantu.
“Oke, hyung!” jawab Bambam.
Mereka pun membantuku berdiri. Ahh... kurasa tulang-tulangku remuk semua. Akhirnya, aku masuk ke kamarku yang ada di lantai 2 untuk mengambil baju ganti dan handukku, lalu turun ke lantai 1—tepatnya ke kamar mandi – untuk mandi pastinya. Sebenarnya aku punya kamar mandi di kamarku, namun kamar mandi itu rusak sehingga aku harus menggunakan kamar mandi yang ada di lantai 1.
Setelah mandi, aku pergi ke ruang makan untuk makan malam. Aku tidak makan malam dengan Baekhyun hyung, Bambam, Appa dan Umma. Mengapa? Karena Baekhyun hyung dan Bambam sudah makan, Appa sedang berada di Ottawa, Kanada, untuk membangun pabrik dengan teman-temannya dan penduduk di sana. Dan Umma, ia sedang ada di Busan, untuk merawat nenekku yang sakit keras.
Saat aku sedang makan, Baekhyun hyung bertanya kepadaku, katanya”Yak, Taehyung-ah, kenapa kau pulang saat senja sudah tiba?”
“Oh itu? Aku ke taman kota, seperti biasa. Tapi tadi aku pulang sedikit terlambat, karena aku bersama seseorang tadi di taman.” Jawabku.
“Seseorang? Siapa itu?” tanya Baekhyun hyung penasaran.
“Hyung ini ingin tahu saja, yang pasti aku kenal orang itu. Dan ia adalah teman sekelasku.” Jawabku lagi.
Setelah makan, aku kembali ke kamarku.Kamarku berada di paling ujung lantai 2. Aku mengambil ponselku untuk melihat foto-fotoku dengan Aerin saat di taman tadi. Aku terkekeh saat melihat fotoku yang sedang bersin. Lalu,aku terpikir untuk mencetak foto-foto itu. Karena itu, aku mengcopy foto-fotoku ke komputerku. Sebenarnya aku akan mengcopy foto-foto itu ke laptopku, tapi ketika aku mencari laptopku, aku baru sadar kalau laptopku sedang dipakai oleh Bambam. Setelah mengcopy foto-foto itu, aku mencetak foto-foto itu di kertas khusus foto, menggunakan printerku. Lalu, kugunting dengan rapi foto-foto itu,  lalu aku membingkai beberapa foto, yaitu foto selca ku dengan Aerin, foto ketika aku meniup gelembung sabun, dan foto ketika Aerin juga meniup gelembung sabun. Foto-foto lain yang tak kuberi bingkai aku masukkan ke album fotoku. Tak lupa aku menulis tanggal, judul, dan quote di halaman album foto itu. Setelah itu, aku menyimpan album itu di lemariku.
Foto-foto yang kuberi bingkai tadi aku taruh di atas meja di dekat tempat tidurku. Akupun mengambil foto selcaku dengan Aerin yang telah kubingkai tadi. Aku tersenyum ketika melihat foto itu. Tanpa kusadari, aku mengelus wajah Aerin di foto itu dengan jariku. 
Apa mungkin aku menyukai Aerin?
Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidurku, sambil memandang foto ku dengan Aerin, dan sesekali melihat ke langit-langit kamarku. Akupun terbayang kembali saat-saat aku bersama dengan Aerin. Mulai dari saat aku mengambilkan bukunya yang terjatuh, saat ia menjadi teman sebangkuku, saat aku berkenalan dengannya, saat aku mengajarinya mengerjakan matematika, saat aku bertemu dengannya dalam perjalanan ke taman, saat aku tiba-tiba menjadi panik saat Aerin terjatuh di trotoar karena menghindari sepeda motor yang hampir menabraknya, saat ia membersihkan sisa es krim yang menempel di sudut bibir kananku, hingga saat aku dan Aerin hampir tak berjarak.
Tuhan... apakah benar aku mempunyai perasaan yang lebih terhadap Aerin?

“Taehyungie hyung, ini laptopnya. Aku sudah selesai menggunakannya. Gomawo, hyung” terdengar suara Bambam yang memasuki kamarku untuk mengembalikan laptopku.
“Ne, cheonma. Taruh saja di atas meja belajarku.” Jawabku tanpa mengalihkan pandanganku dari foto yang kupegang tadi sama sekali.
“Yak, hyung, apa yang sedang kaulihat? Jangan bilang kau tak menyadari kedatanganku?” tanya Bambam.
“Dasar anak kecil, mau tahu saja. Aku menyadari kedatanganmu, kok. Buktinya aku menjawabmu saat kau memanggilku.” Jawabku.
“Aku lihat ne, hyung!” kata Bambam sembari mengambil foto yang sedang  kupegang.
“Yak! Yak! Ahh, kau ini!” jawabku akhirnya.
“Hey,apa yang sedang kalian lihat, eoh?” Baekhyun hyung pun ikut-ikutan masuk ke kamarku. Saat ia melihat foto yang dipegang oleh Bambam, Baekhyun hyung berkata “Ohhhh.. I see. Jadi kau pulang terlambat karena berkencan dengan pacar barumu, eoh?”
“MWO? Pacar?  Dia bukan pacarku, hyung! Aku dan dia hanya berteman.” Bantahku.
“Chakkaman. Ini kan Park Aerin, sepupunya si tiang listrik Chanyeol dan si pendek Jimin. Dia punya seorang eonni, namanya Park Rieun. Kau berpacaran dengan Aerin, eoh? Kalau tidak, kenapa kau menyimpan fotonya?” tanya Baekhyun hyung.
“Jinjja? Ahahaha,sepertinya aku akan punya kakak ipar, hyung! Chukkaeyo, hyung!” ledek Bambam.
“Tidak, sekali lagi kutegaskan , aku dan Aerin hanya ‘teman dekat’. Hanya sebatas itu. Titik.” Tegasku.
“Kau yakin, hyung, tak ada perasaan lebih atau hubungan spesial dengan Aerin noona?” kini Bambam yang angkat bicara.
“Terserah kau saja kalau tak mau percaya.” Jawabku singkat.
“Sudahlah, Baekhyun hyung, Bambam, keluar, jebal. Aku mau belajar dulu.”aku meminta mereka meninggalkan kamarku.
“Ne, ne, baiklah.” Jawab Baekhyun hyung dan Bambam. Mereka pun keluar, meninggalkan kamarku, dan kembali ke dunia masing-masing (?). Sementara aku mengambil setumpuk buku komikku untuk kubaca. Ya, sebenarnya aku tak belajar, aku meminta mereka keluar hanya agar mereka tak menanyakan hal-hal tentang aku dan Aerin. Serius, aku paling tak suka  jika ada orang yang menanyaiku soal itu!
Setelah aku membaca semua komik-komikku, aku menyiapkan buku-buku yang akan kupakai besok di sekolah. Aku mengeluarkan buku-bukuku yang telah kupakai tadi. Kulihat di tumpukan bukuku, ada secarik kertas kecil. Err.. ngomong-ngomong kertas apa itu? Aku pun mengambil kertas itu, untuk mengetahui apa isi kertas itu. Ternyata itu adalah nomor ponsel Aerin, aku lupa menyimpannya.  Aku pun meraih ponselku, lalu memasukkan nomor ponsel Aerin ke daftar kontakku.  Aku pun terpikir untuk mengirim pesan kepadanya. Tapi, apa itu tak mengganggunya?  Yeah, semoga saja tidak. Aku pun mulai mengirimkan pesan kepadanya.
To: Park Aerin
Annyeong, Aerin-ah J  kau sedang apa?
Aku harap ia akan membalas pesanku. Drrrrttt.... ponselku bergetar. Sepertinya pesan dari Aerin. Dan ternyata benar. Akhirnya aku membuka pesan itu
From : Park Aerin
Nado annyeong. Aku sedang bermain gitar di kamarku. Kau sedang apa?
Jinjja? Dia bisa bermain gitar? Daebak! Aku pun membalas pesannya.
To : Park Aerin
Aku? Aku baru selesai membaca komik-komikku.. Chakkaman. Kau bisa bermain gitar?
Tak lama kemudian, Aerin membalas pesanku.
From: Park Aerin
Tentu saja. Aku diajari oleh Chanyeol oppa. Ya, sayangnya, aku tak bisa bermain sehebat dirinya.
Aku langsung membalas pesannya lagi.
To: Park Aerin
Ohh.. I see. Besok tak ada PR yang harus dikumpulkan,’kan?
Ia membalas pesanku.
From: Park Aerin
Aku rasa tidak ada. Oh iya, bagaimana dengan tes seleksi adikmu?
Aku membalas lagi.
To : Park Aerin
Syukurlah, dia diterima. Dia menjadi wakil bendahara. Aku senang dongsaengku diterima menjadi pengurus OSIS. Karena aku mendapatkan keuntungan darinya. Hehehehe...
Ia membalas lagi.
From : Park Aerin
Keuntungan apa yang kau maksud? Aku penasaran.
Aku pun membalas lagi. Err... bagaimana jika aku tahu sebutannya? Dia kan sudah tahu sebutanku.
To: Park Aerin
Aku akan ditraktir olehnya. Lagipula, dia belum pernah mentraktirku. Ngomong-ngomong, apa aku boleh tahu sebutanmu? Kau kan sudah tahu sebutanku.
Ia pun membalas lagi.
From: Park Aerin
Sebutanku? Sebutanku itu PoutyRin. Karena aku senang mempoutkan bibirku. Ngomong-ngomong, aku tidur dulu, ne? Sampai jumpa besok, BlankTae.
Ohhh... PoutyRin... lucu juga. Bahkan lebih lucu dari BlankTae. Sebelum membalas pesannya, aku mengganti nama tampilan kontaknya di daftar kontakku.
To:PoutyRin (Park Aerin)
PoutyRin, ya? Ohh... baiklah. Selamat tidur, PoutyRin. Sampai jumpa besok. Hahaha, sepertinya sedikit aneh jika aku memanggilmu PoutyRin.
Hahaha, aku mengucapkan selamat tidur kepada Aerin. Selamat tidur,PoutyRin -- itu lebih terdengar  seperti ucapan selamat tidur seorang ayah kepada anaknya. Eh? Memangnya aku ayahnya? Hahaha..
Atau mungkin, ucapan selamat tidur dari seorang..... Ah sudahlah jangan dipikirkan!
Ia pun membalas pesanku. Setelah membaca pesan ini, aku terlonjak kaget.
From : PoutyRin(Park Aerin)
Terimakasih atas ucapan selamat tidurnya. Kau nanti akan terbiasa memanggilku dengan sebutan itu. Err... kau sudah memperbaiki sepeda dongsaeng mu?
Ahh! Aku belum memperbaiki sepeda Bambam. Aku membalas lagi.
To : PoutyRin (Park Aerin)
Ahh, iya!! Aku belum memperbaikinya. Okay, aku perbaiki sepeda Bambam dulu. Gomawo sudah mengingatkanku. Tidur yang nyenyak, Aerin. Hihihihi.
Ini balasan terakhirnya.
From: PoutyRin (Park Aerin)
Okay, Blanktae. See you tomorrow!!

Setelah membaca pesan dari Aerin, aku pun langsung beranjak dari tempat tidurku, lalu aku keluar dari kamarku, dan melangkah menuju teras rumah.
Saat aku akan membuka pintu, Bambam memanggilku, katanya “Yak, hyung! Bagaimana dengan sepedaku? Apa sudah kau perbaiki?”
“Aku baru mau memperbaikinya. Sudahlah, sana kau!” jawabku tanpa berpaling sedikitpun.
“Cihhh.... ne, ne, baiklah hyung!” kata Bambam.

SKIP

“Ahh, akhirnya, selesai juga memperbaiki sepeda ini.” Kataku lega sambil menyeka keringatku.  Aku sudah selesai memperbaiki sepeda Bambam.  Aku pun masuk ke rumah untuk memberitahu Bambam bahwa sepedanya sudah kuperbaiki.  Tampak Bambam yang sedang berada di dapur. Mungkin ia sedang mencari  cemilan.
“Bambam-ah, sepedamu sudah kuperbaiki.” Kataku kepada Bambam.
“Ahh, ne, gomawo, hyung” jawabnya.
“Ne cheonma. Lain kali kau hati-hati, arra?” kataku lagi.
“Ne, arra, hyung!” jawab Bambam.

Karena hari sudah malam, aku memutuskan untuk tidur. Aku langsung masuk ke kamarku yang berada di lantai 2. Aku rasa Baekhyun hyung belum tidur. Baekhyun hyung memang sudah di kamarnya, namun aku masih dapat mendengar suaranya. Sepertinya Baekhyun hyung sedang berbicara dengan seseorang, mungkin ia sedang menelepon temannya, entah Suho hyung, atau Chanyeol hyung, atau yang lainnya.
Bagaimana dengan Bambam?
Saat aku akan memasuki kamarku, aku melihat Bambam, ia berjalan menuju kamarnya dengan sekaleng minuman bersoda yang aku beli kemarin, untuk stok. Aku yakin dia tak akan tidur dulu, karena ia menonton film horror. Ia mengoleksi banyak sekali CD. Dari CD film horror, action, yadong, dan...... kartun? Yap, dia mempunyai CD kartun, untuk menontonnya bersama anak dari tetanggaku yang berusia 8 tahun. Tetanggaku selalu menitipkan anaknya kepada Bambam. Ia pikir Bambam itu penitipan anak?
Sudahlah, lebih baik aku tidur.  Aku pun masuk ke kamarku setelah melihat Bambam telah memasuki kamarnya. Tak lupa aku menutup pintu kamarku. Setelah itu, akupun membaringkan diriku di atas tempat tidurku. 
Tiba-tiba mataku tertuju pada suatu benda. Foto selcaku dengan Aerin saat di taman tadi, yang aku taruh di atas mejaku.
Aku meraih foto yang kuberi bingkai tersebut dengan tanganku. Kutatap foto itu lagi. Sudut bibirku tertarik ke atas, membentuk sebuah senyum. Tanpa sadar,dalam hati aku berkata “Aerin-ah, mungkinkah aku menyimpan perasaan itu kepadamu?”
Ani, ani. Aku tak menyukainya. That’s so impossible!  Aku berusaha mengelak dari pemikiranku itu.
Tiba-tiba, aku menguap, menutup mataku dan tertidur.

#Taehyung’s POV end

#Author’s POV
Tok.. tok.. tok...
“Taehyungie hyung! Kau sudah tidur?” terdengar suara Bambam yang sedang mengetuk pintu kamar Taehyung.
“Issshhhh... kenapa tak dibukakan?” gerutu Bambam.
“Hyung, kau lihat buku bahasa Inggrisku?” tanya Bambam lagi di depan pintu.
“Hyung, hyung.....” Bambam memanggil Taehyung lagi sambil mengetuk pintu.
“Hyung.... Do you want to build a snowman?  Come on, let’s  go and play! I never see you anymore, come out the door,  It’s like you’ve gone away....” panggil Bambam lagi sambil menyanyikan lagu “Do You Want to Build a Snowman?”. Hahaha, mereka seperti Elsa dan Anna.
“Tak ada jawaban. Tapi, apa pintunya dikunci?” kata Bambam.
Bambam pun mencoba untuk membuka pintu. Ternyata pintunya tidak dikunci.
“Ahh, tak dikunci. Seharusnya aku langsung membuka pintu saja.” Gumam Bambam. “Hyung, apa kau melihat buku bahasa Inggris ku?” tanya Bambam tanpa melihat Taehyung yang sudah tertidur-__- Bambam melihat ke sekeliling kamar Taehyung, untuk mencari buku bahasa Inggrisnya. Gerakan matanya berhenti pada meja yang ada di sebelah tempat tidur Taehyung. Bukan, ia tak melihat pada mejanya, tapi pada lantainya. Buku yang Bambam cari ada di dekat meja itu. “Ahh... ini dia yang ku cari.” Gumamnya senang. Ia membungkuk untuk mengambil buku itu, lalu kembali pada posisi tegaknya. Tiba-tiba matanya tertuju pada meja yang berada di sebelah tempat tidur Taehyung.

“Eh, tunggu..” kata Bambam.

TBC

Next Chapter Review....
“PoutyRin? Itu terdengar seperti panggilan sayang”

“Aerin-ah!!” teriaknya.

“Just like an angel” itulah kalimat yang tertulis di dekat gambar itu.

Dia tak hanya datang dengan Taera, tapi dengan satu orang lagi...

Aku membelai surai coklat hazelnya dengan lembut.

Maybe I really have a crush on you.....


Tolong tinggalin jejak atau tanda kehidupan, ya....Don’t forget to RCL...Jangan lewatin Chapter 3 nya, ya!!!